WISATA MASSAL

Penyelenggaraan Pariwisata (Perjalanan Wisata) yang melibatkan wisatawan dalam jumlah banyak, berombongan dan dalam pengaturan yang boleh dikatakan hampir standar dalam hal pengaturan waktu, tempat yang dikunjungi, fasilitas (penerbangan, hotel dll) yang digunakan dan ditetapkan dalam paket yang standar.
Pariwisata massal terkadang diselenggarakan dengan angkutan udara charter, sehingga mencapai jumlah wisatawan lebih dari 100 orang sekali angkut, bahkan belakangan dengan adanya pesawat berbadan lebar dan besar, jumlah wisatawan sekali angkut bisa mencapai 350 s/d 400-an. Demikian juga halnya dengan pariwisata pelayaran (cruise) bisa mencapai ribuan wisatawan sekali angkut.
Wisatawan itu akan dikelompokkan dalam group-group yang lebih kecil sesuai dengan paket-paket yang ditawarkan oleh penyelenggara (Tour Operator) dan tersebar ke berbagai destinasi di negara tujuan.
Pariwisata massal dapat juga terjadi pada kesempatan penyelenggaraan suatu peristiwa (event) di suatu negara, seperti misalnya olimpiade, piala dunia sepakbola, lomba mobil/motor (F-1, motor race), kejuaraan tennis dunia, kejuaraan dunia badminton, ASIAN dan ASEAN Games, dsb.
Namun demikian, bukan tidak mustahil, event-event seperti tersebut disertai juga dengan terselenggaranya  pariwisata berkualitas (quality tourism), tergantung kemasan yang ditawarkan penyelenggara tour tersebut.

Ecotourism adalah perjalanan wisata yang bertanggung jawab terhadap segala interaksi dari wisatawan dengan komponen lingkungan selama beraktivitas, baik itu pendidikan, konservasi maupun ekonomi lokas masyarakat (interaksi social yang positif). dan ekowisata menjadi alternative solusi pengendali perusakan lingkungan oleh industry pariwisata massal (yang bisa anda lihat di Kute, Bali, sebagai salah satu contoh negatifnya)

Banyak pemicu wisata massal. Baik demand wisatawan yang jenuh akan mass tourism, usia lanjut yang semakin panjang umur, pendidikan calon wisatawan dan beberapa komponen lain .

 

Awal Mula Pariwisata Massal

Pariwisata massal berkembang setelah terjadinya perkembangan teknologi dalam komunikasi dan transportasi yang memungkinkan pengangkutan banyak orang, seperti berkembangnya telepon, telegraf dan perkereta-apian di Eropa dan Amerika, perkembangan teknologi penerbangan dll., bahkan dewasa ini, didukung dengan perkembangan teknologi informasi elektronik perkembangan kepariwisataan dunia semakin cepat dan meluas . Di samping itu, di awal abad ke-20, sebagian besar orang mulai menikmati manfaat waktu luang sehingga mereka mengisinya dengan berlibur.
Terjadinya mass tourism diawali oleh Thomas Cook yang menyelenggarakan Paket Wisata pertama pada tanggal 5 Juli 1841, yang kemudian disusul oleh tour operator lain-lainnya. Dengan demikian Thomas Cook menjadi Tour Operator yang pertama di dunia yang menyelenggarakan paket-paket wisata dan disebutnya sebagai “Bapak Pariwisata Massal Modern” (The Father of Modern Mass Tourism). Pada saat itu baru berkisar di dalam negeri Inggris saja, namun kemudian berkembang ke destinasi-destinasi lain di Eropa, Afrika bahkan juga ke Amerika.

 

Pandangan terhadap Mass Tourism vs Quality Tourism

Seiring dengan perjalanan waktu, terjadi perubahan pandangan atas dampak pengembangan kepariwisataan bagi negara yang bersangkutan, pariwisata massal dipandang sebagai memiliki peluang menimbulkan degradasi bahkan destruksi atas lingkungan, baik lingkungan alam maupun lingkungan budaya dan sosial, di samping dampak positif pada kehidupan ekonomi negara dan bangsa yang dikunjunginya.
Sebagai upaya meredam dampak negatif itu, berbagai negara berupaya mengembangkan pariwisata berkualitas, dalam arti menyelenggarakan kepariwisataannya dengan menawarkan perjalanan wisata eksklusif, alternatif dan sebangsanya yang tidak bersifat massal.
Berbagai negara di dunia kemudian berupaya mengubah arah pengembangan kepariwisataannya dari mass tourism ke arah “Pariwisata Berkualitas” (quality tourism), di mana quality tourism diyakini bisa lebih bermanfaat tidak saja bagi kehidupan ekonomi negara dan bangsa, namun juga bermanfaat dalam hal kemajuan masyarakat secara utuh dan sinambung, berkelanjutan untuk masa yang sangat panjang (sustainable), atau bahkan tak terbatas waktu, baik dalam hal kesejahteraan ekonomi, maupun kehidupan sosial budayanya. Keterlambatan mengubah arah dari mass tourism ke quality tourism akan semakin sukar dilakukan, mengingat kondisi dan situasinya yang dihadapkan pada persaingan yang datang dari destinasi wisata murah dan asri di satu sisi dengan destinasi di sisi lain yang merupakan peninggalan pengembangan berlebihan selama puluhan tahun sebelumnya.

Implikasinya di tanah air

Bagi Indonesia, Bali merupakan daya tarik utama bagi berbagai motivasi perjalanan wisata, mulai dari wisata pesiar (pleasure) sampai wisata bisnis (termasuk konferensi), dari wisata bawah laut sampai puncak gunung, dari wisata budaya sampai wisata petualangan, bahkan penyelenggaraan Miss World sekali pun Bali mampu melayaninya. Baru-baru ini ada pula wacana untuk menjadikan Bali sebagai destinasi golf. Maka semakin lengkaplah Bali.
Pemanfaatan Bali sebagai Destinasi yang “Serba Ada dan Serba Bisa” hingga dewasa ini, dikhawatirkan dalam tempo yang tidak terlampau lama, aKan menjadikan Bali over-exploited, over-loaded, bahkan menuju kehancuran jika tidak diimbangi dengan pengembangan destinasi-destinasi lainnya yang mampu berperan sebagai “pengganti” (substitute) atau alternatif dilengkapi pengembangan atraksi, fasilitas, sarana dan prasarana yang memadai dan mengimbangi Bali. Agaknya, sudah saatnya sekarang ini untuk melakukan upaya-upaya tersbut.

Cr: https://caretourism.wordpress.com/2013/09/20/pariwisata-massal-dan-implikasinya/

 

 

DEFINISI Tanpa mendapatkan terlalu terjebak dalam definisi teoritis pariwisata, turis atau industri  pariwisata sangat penting untuk menggambarkan perbedaan konseptual antara pariwisata massal dan ekowisata. Pariwisata massal cenderung memiliki sebagian besar karakteristik sebagai  berikut: o konsentrasi pada volume penjualan tinggi dengan throughput tinggi dan perputaran. o pergeseran kelompok besar orang (turis) ‘massal’ untuk tujuan tertentu ‘maju’ (yaitu kemampuan untuk menyerap jumlah besar).

 

Pemanfaatan penuh komponen liburan dikemas ditawarkan sebagai satu produk dengan harga semua termasuk, sering dengan kerangka waktu jangka pendek. o Pengembangan sistem skala besar transportasi, infrastruktur, akomodasi, fasilitas pendukung dan atraksi dalam tujuan, biasanya dengan cepat dan sering pasokan dipimpin. o Pendekatan Pemasaran ini berpusat di sekitar motif yang lebih hedonistik untuk perjalanan, khususnya matahari, laut dan produk wisata pasir. Kata kunci untuk pariwisata massal adalah: volume tinggi, skala besar, kecepatan cepat, motif hedonistik. Eco-wisata, di sisi lain, harus memiliki karakteristik sebagai berikut:

  • Jadilah pengalaman berbasis alam

 

  • Jadilah dampak rendah dan skala kecil

 

  • Mempromosikan sebuah etika konservasi

 

  • Memberikan dukungan bagi masyarakat setempat

 

  • Menyediakan

kesempatan belajar

  • Membantu menjaga integritas alam dan budaya daerah wisata tertentu

 

  • Utilises teknik ramah lingkungan dan teknologi.

Eco-tourism telah muncul dalam lima belas tahun terakhir dari kata kunci yang nyaman untuk sebuah gerakan internasional. Ini merupakan upaya untuk menyeimbangkan pembangunan ekonomi pariwisata dengan konservasi dan perlindungan daerah alam dan budaya tradisional. Ini mendukung sangat konsep pembangunan berkelanjutan melalui pariwisata.

Cr: http://www.academia.edu/5787943/mass_tourism

 

Pariwisata 2017 – Ditengarai terjadinya pergeseran orientasi pariwisata pada tahun 2017, dari wisata massal menuju wisata alternatif atau wisata minat khusus dengan pola wisata yang menekankan kepada aspek penghayatan dan penghargaan lebih terhadap aspek kelestarian alam, lingkungan dan budaya (enviromentally and cultural sensitives). Kesadaran terhadap pesona Indonesia oleh komunitas-komunitas masyarakat di sekitar Obyek Dengan daya Tarik Wisata (ODTW) berupa keindahan lanskap alam, keanekaragaman seni, budaya dan adat istiadat masyarakat yang dikelola secara ramah dan diselenggarakan geliat kepariwisataannya dengan menawarkan perjalanan-perjalanan wisata minat khusus terhadap pasar pariwisata merupakan salah satu unsur yang berpengaruh terjadinya pergeseran orientasi pariwisata, selain kejenuhan wisatawan itu sendiri terhadap wisata buatan yang bercirikan wisata massal.

Oleh sebagian kelompok, pariwisata massal dipandang berpeluang menimbulkan degradasi bahkan destruksi atas lingkungan, baik lingkungan alam maupun lingkungan budaya dan sosial. Berbeda dengan konsep wisata minat khusus yang lebih banyak menitik beratkan pada wisata yang ramah terhadap alam, lingkungan sosial dan budaya di sekitar Obyek Dengan daya Tarik Wisata, dan kebanyakan wisata massal lebih berorientasi  mendapatkan keuntungan secara ekonomi semata dengan mengedepankan sistem ekonomi kapitalistik, kawasan wisata massal yang di bangun maupun pelayannya lebih banyak menyajikan hiburan yang mampu menampung kapasitas pengunjung lebih banyak tanpa memperhitungkan dampak negatif terhadap lingkungan maupun sosial. Menurut Kodhyat (1997:75) dalam buku Tourism Technology and Competitive Strategies menyebutkan bahwa “pariwisata massal sebagai pariwisata modern atau konvensional, di mana jenis pariwisata ini memiliki ciri-ciri yakni kegiatan wisata berjumlah besar (Mass Tourism), sebagian dikemas dalam satuan paket wisata, pembangunan sarana dan fasilitas kepariwisataan berskala besar dan mewah memerlukan tempat-tempat yang dianggap strategis serta memerlukan tanah yang cukup luas“.

Dampak dari pembangunan pariwisata massal dan aktivitasnya terhadap sumberdaya manusia dapat berakibat terjadinya degradasi nilai-nilai sosial budaya, nilai-nilai moral, komersialisasi tradisi. Begitupun pengaruhnya terhadap sumber daya alam, pembangunan wisata massal akan berdampak pada terjadinya alih fungsi lahan dari sektor pertanian ke sektor pariwisata, terjadinya pencemaran lingkungan serta terjadinya kerusakan lingkungan dan ekosistem. Dampak negatif tersebut disebabkan karena “pengembangan pariwisata massal semata-mata dilakukan dengan pendekatan ekonomi dan pariwisata dipersiapkan sebagai instrumen untuk meningkatkan pendapatan keuangan sebuah lembaga“.

Pariwisata 2017 – Ditengarai terjadinya pergeseran orientasi pariwisata pada tahun 2017, dari wisata massal menuju wisata alternatif atau wisata minat khusus dengan pola wisata yang menekankan kepada aspek penghayatan dan penghargaan lebih terhadap aspek kelestarian alam, lingkungan dan budaya (enviromentally and cultural sensitives). Kesadaran terhadap pesona Indonesia oleh komunitas-komunitas masyarakat di sekitar Obyek Dengan daya Tarik Wisata (ODTW) berupa keindahan lanskap alam, keanekaragaman seni, budaya dan adat istiadat masyarakat yang dikelola secara ramah dan diselenggarakan geliat kepariwisataannya dengan menawarkan perjalanan-perjalanan wisata minat khusus terhadap pasar pariwisata merupakan salah satu unsur yang berpengaruh terjadinya pergeseran orientasi pariwisata, selain kejenuhan wisatawan itu sendiri terhadap wisata buatan yang bercirikan wisata massal.

Oleh sebagian kelompok, pariwisata massal dipandang berpeluang menimbulkan degradasi bahkan destruksi atas lingkungan, baik lingkungan alam maupun lingkungan budaya dan sosial. Berbeda dengan konsep wisata minat khusus yang lebih banyak menitik beratkan pada wisata yang ramah terhadap alam, lingkungan sosial dan budaya di sekitar Obyek Dengan daya Tarik Wisata, dan kebanyakan wisata massal lebih berorientasi  mendapatkan keuntungan secara ekonomi semata dengan mengedepankan sistem ekonomi kapitalistik, kawasan wisata massal yang di bangun maupun pelayannya lebih banyak menyajikan hiburan yang mampu menampung kapasitas pengunjung lebih banyak tanpa memperhitungkan dampak negatif terhadap lingkungan maupun sosial. Menurut Kodhyat (1997:75) dalam buku Tourism Technology and Competitive Strategies menyebutkan bahwa “pariwisata massal sebagai pariwisata modern atau konvensional, di mana jenis pariwisata ini memiliki ciri-ciri yakni kegiatan wisata berjumlah besar (Mass Tourism), sebagian dikemas dalam satuan paket wisata, pembangunan sarana dan fasilitas kepariwisataan berskala besar dan mewah memerlukan tempat-tempat yang dianggap strategis serta memerlukan tanah yang cukup luas“.

Dampak dari pembangunan pariwisata massal dan aktivitasnya terhadap sumberdaya manusia dapat berakibat terjadinya degradasi nilai-nilai sosial budaya, nilai-nilai moral, komersialisasi tradisi. Begitupun pengaruhnya terhadap sumber daya alam, pembangunan wisata massal akan berdampak pada terjadinya alih fungsi lahan dari sektor pertanian ke sektor pariwisata, terjadinya pencemaran lingkungan serta terjadinya kerusakan lingkungan dan ekosistem. Dampak negatif tersebut disebabkan karena “pengembangan pariwisata massal semata-mata dilakukan dengan pendekatan ekonomi dan pariwisata dipersiapkan sebagai instrumen untuk meningkatkan pendapatan keuangan sebuah lembaga“.

Cr: https://wisatahalimun.co.id/wisata-minat-khusus-vs-pariwisata-massal

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s